MAAF BLOG DALAM PERBAIKAN


About Nagasari

Ada kepercayaan dalam masyarakat Jawa, beberapa jenis kayu tertentu memiliki kekuatan magis. Antara lain karena tumbuh di tanah keramat. Karena derajat tuahnya, kadangkala memerlukan ritual khusus untuk mengambil. Motif serat kayu dan bentuknya diyakni sering memiliki kekuatan gaib. Pelet Kendhit, misalnya, warangka keris dari kayu Timaha ini dipercaya memiliki daya mengikat tamu dalam hajad agar tak segera pulang.

Kepercayaan ini juga terdapat pada suku bangsa lain. Memang ada beberapa jenis kayu secara tradisional dianggap bertuah. Pohon asal India ini mudah tumbuh di bawah 1300 meter dpl (di atas permukaan laut). Banyak terdapat di Jawa dan Bali. Tinggi bisa mencapai 20 mater dengan diameter batang 50 cm. Bisa didapat di makam raja-raja di Imogiri, Kotagede, Kudus dan Gunung Muria. Daun mudanya berwarna merah duduk berhadapan. Berbunga besar dengan 4 helai daun mahkota berwarna putih, beraroma wangi. Buahnya berkulit keras, disebut gandhek berisi 1 hingga 4 biji. Mulai akar, daun, bunga dan kulit, bisa dimanfaatkan sebagi obat.

Biji nagasari bisa untuk obat luar. Setelah dikupas, biji ditumbuk halus, kemudian dicampur minyak kelapa atau wijen yang dipanasi. Oleskan pada luka, bengkak atau eksim menahun. Biji nagasari juga bisa dipakai menyembuhkan luka dalam. Caranya, ambil 3-5 nagasari, pecah dan tumbuk lalu taruh dalam gelas berikut kulitnya, seduh dengan air matang. Diamkan sekitar 5 menit, setelah dingin bisa diminum. Ampasnya jangan dibuang, sebab bisa diseduh lagi setelah 5 jam. Air ini bisa mengobati haid, pendarahan lambung dan keputihan.

Dari pengalaman banyak orang, segala penyakit yang mempunyai efek panas badan dapat disembuhkan dengan nogosari, baik dengan seduhan dalam air mulai dari biji, serpihan kayu, daun, bunga atau kulit kayunya. Kulit kayu nagasari menjadi coklat kehitaman atau berserat hitam. Untuk mendapatkan dianjurkan puasa mutih (hanya makan nasi dan minum air putih) selama beberapa hari. Sebelum memotong kayu, seyogyanya melakukan sesaji menurut petunjuk jurukunci.

Kayu nogosari keras dan ulet, Kalau akan dibentuk dan diukir, kayu nogosari jangan dijemur setelah dipotong. Tapi langsung ditatah atau diserut setelah kering. Kayu ini berbahaya dijadikan alat pemukul. Kekuatan pukulan bisa membalik mengenai pemakainya. Tuah kayu ini dinilai memiliki beberapa daya magis. Misal untuk keselamatan, kewibawaan, pengobatan, perlindungan terhadap orang jahat (jin jahat), binatang berbisa, anti tenung dan black magic. Pemakai kayu ini diharapkan berlaku jujur dan suci, jika tidak maka tindakan negatifnya akan berbalik memukul diri sendiri. (mol)

Kayu Nagasari mudah dikenal karena jika ujungnya dibakar tidak menyala dan jika direndam sekitar 10 menit maka permukaannya akan keluar bulu-bulu halus.

Kayu ini jangan sekali-kali dilangkahi wanita. Juga jangan dilekati benda logam (emas, kuningan, perak) atau gading. Biarkan seperti adanya. Kayu yang tua sangat bagus untuk dibuat mata cincin, khasiatnya sama dengan membawa kayu Nagasari dalam ukuran besar.

Untuk nagasari dari daerah Cirebon sendiri sudah memiliki tempat khusus bagi penggemar kayu bertuah. Nagasari dari daerah Cirebon konon adalah penjelmaan seekor naga yang ingin mengabdi kepada Syekh Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal Sunan Gunung Jati, Beliau (Sunan Gunung Jati) meluluskan permintaan naga tersebut dengan satu syarat yaitu merubah wujud dari seekor naga yang besar menjadi sebuah tongkat (ada juga yang percaya naga tersebut berubah menjadi keris) agar tidak menakutkan orang yang melihat.



0 komentar:

Poskan Komentar